Akhir-akhir ini, entah kenapa saya sering mengutuk diri sendiri. Tentang kenapa saya judes, kenapa saya galak, atau kenapa cara jalan saya aneh. Suka sedih ketika tau bahwa beberapa cowok sering mengejek saya tentang cara jalan saya yang aneh itu. Ya emang aneh sih tapi. Tapi ya gimana ya. Padahal saya sudah coba perbaiki, setiap hari, jalan lurus ngikutin garis lurus, jalan ala catwalk kalo lagi sendirian, dan lain lain lalalalala. Tapi ya tetep. Hmm, gimana ya, sedih.
Tapi saya seneng jadi diri saya sendiri. Kadang saya seneng punya cara jalan yang aneh, jadi gampang diinget dan dikenali keberadaannya oleh orang-orang yang saya kenal. Kadang loh ya, kadang. Sedihnya sih, sering. Mungkin karena itu juga, karena saya judes, galak dan aneh, beberapa teman adam jadi ilfil sama saya.
Untungnya, dua teman adam yang dekat sama saya bilang, “Alaah nggak masalah kok itu jeem” pas tadi saya curhat dan nanya tentang cara jalan saya. Ya meskipun dua teman saya tadi sama-sama freak dan aneh kayak saya, mereka menyadarkan saya bahwa di dunia ini nggak cuma saya yang aneh, dan ternyata masih ada yang lebih aneh dari saya. Dan ternyata itu mereka berdua. hahahaha. Tapi gara-gara mereka, sedikit banyak bikin saya semangat lagi,
Semangat jadi diri sendiri, semangat mencintai diri sendiri.
Yaa meskipun nggak bisa jadi cewek tulen yang modis, anggun dan pinter dandan, seenggaknya saya bangga dengan diri saya sendiri. Seenggaknya, saya bisa menjaga diri saya sendiri sebagai wanita dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa bikin saya tercoreng—sebagai wanita.
Seperti biasa, maaf ya kalo tulisannya galau dan selalu galau. Galau adalah inspirasi.
Hahahaha, yasudah. Selamat malam.
ps: teman saya tadi namanya arida sama ezar lho, bayangkan saja bagaimana freaknya mereka………………………….
pujanggakancil
(via pujanggakancil)
Malam ini, kutinggalkan lagi sebaris doa untukmu.
Berharap semoga ia dapat menjadi energi barumu esok pagi, esok lusa, dan seterusnya.
Berharap semoga ia selalu menemanimu, menegakkan kembali semangat tubuhmu, melebarkan kembali senyummu yang hangat dan lembut.
Berharap semoga kau tak pernah merasa sendiri.
Aku akan sangat senang bila yang diharapkan lekas menjadi nyata.
Meskipun aku tak bisa mengetahuinya secara live. Meskipun yang terlihat hanya sekedar tulisan, simbol kembalinya kebahagiaanmu, semangatmu.
Karena aku akan terus disini. Melihatmu, merasakanmu.
Meninggalkan lagi sebaris doa untukmu.
Berharap semoga ia dapat menjadi energi barumu esok pagi, esok lusa, dan seterusnya.
Saya suka banget sama anak kecil. Saya kangen, kangen mengajar. Saya kangen sama adek-adek di kebon bibit yang selalu meluk saya setiap kali saya baru nyampe pelataran masjid. Saya kangen waktu mereka rebutan nganterin saya pulang, rebutan pengen dianterin pulang, rebutan ngebawain barang-barang saya yang rempong, atau ketika mereka rebutan duduk di pangkuan saya untuk sekedar duduk atau ngedengerin cerita yang saya bacain.
Saya inget banget sama salah satu dari mereka. Dulu, pertama kali saya kenal, dia adalah tipe anak yang tidak bisa diam, suka mencari keributan untuk sekedar mendapat perhatian, singkatnya, bandel. Awalnya memang sulit, sulit banget bikin dia mendengar apa yang saya tegurkan padanya. Bahkan untuk menoleh pada saya ketika saya memanggil namanya saja, susahnya masyaallah. Sampai pada suatu hari saya tau, bahwa dia putus sekolah. Saya sedih banget, sediih banget. Saya jadi ngerti kenapa selama ini dia begini dan begitu.
Saya masih ingat, ketika setiap harinya saya datang ke masjid untuk sekedar mengajar menggambar dan mewarnai, dia ada disitu, ikut menggambar bersama kami. Sampai pada akhirnya saya terlibat satu pembicaraan kecil dengannya. Waktu itu saya meminta anak-anak menggambar apapun yang mereka suka, kemudian menuliskan bahasa inggris untuk setiap hal yang mereka gambar. Berbagai kosakata yang baru mereka ketahui saya catat, kemudian pada akhir pertemuan saya main tebak-tebakan sama mereka. Ketika yang lain sibuk menjawab pertanyaan, dia hanya diam. Tiba-tiba salah satu temennya nyeletuk
“Kak dia nggak jawab tuh kak, soalnya kan dia nggak sekolah lagi.”
Saya langsung kaget. Tapi dia hanya diam.
“Nggak papa, kan semuanya disini belajar.” Kurang lebih itu yang saya ucapkan waktu itu.
Ketika jam belajar usai, yang lain berhamburan main. Dia duduk sendirian, disebelah saya.
“Kak, ayo tebakin lagi.” Katanya. Saya tersenyum.
“Ayo!”
Kemudian saya main tebak-tebakan bahasa inggris lagi sama dia. Dan saya senang ketika dia lumayan mudah menghafal.
“Nah itu pinter ngafalinnya.” Kata saya. Dia senyum.
“Nggak papa kok sekarang kamu nggak sekolah lagi. Yang penting nanti harus pinter ya? Mau jadi anak pinter kan?”
Dia mengangguk, senyum lagi.
“Nah sip, harus rajin belajar ya. Nanti kakak bantuin belajarnya, mau kan?”
Dia senyum, terus saya usap kepalanya. Setelah pembicaraan itu, dia langsung ngirbit main sama temen-temennya yang lain. Pas saya lagi sibuk beresin alat-alat gambar yang berceceran, tiba-tiba saya ditarik sama dia.
“Kak ayo ikut main!” Dan yang lain pun ikutan narik tangan saya. Hari itu jam belajar sudah selesai. Tapi saya baru pulang dan sampai di kosan satu setengah jam setelahnya. Saya diajak main apa namanya itu, yang dikejar sama salah satu orang, terus kita diem. Nanti kalau udah di sentuh sama temen yang lain, kita baru boleh gerak. Saya lupa namanya. Bahkan sempet lupa cara mainnya. Tapi mereka dengan senang hati ngasih tau saya, selalu kasih saya peran, selalu menganggap saya ada. Saya juga diajak main ini itu yang saya lupa nama permainannya apa, diminta lihat mereka lomba lari, dan sepanjang satu jam setengah itu tak lepas dari kata-kata “Kak main ini yuk” , “Kak kak lihat deh” , “Kakaak ayoo sinii”, dan saya seneng banget.
Akhirnya saya kehabisan tenaga juga. Akhirnya saya duduk, ngeliatin anak-anak main. Gini aja udah capek, berasa tua pas ngeliat mereka masih asik main walaupun udah pada keringetan sana sini.
“Kak ayo maiin!”
“Kakak capek nih, kakak duduk dulu ya.”
terus yang lain ikutan duduk disebelah saya. Tiga cewek-cewek yang umurnya belum genap lima tahun dan yang sedari tadi ngegandolin saya, masing masing ambil posisi. Ada yang duduk di kaki saya, ada yang menggelayut di punggung saya. Cowok-cowok yang daritadi lari-lari sana sini akhirnya juga ikutan duduk sama saya. Yang satu mainin tangan saya, yang satu nggelitikin telapak kaki saya, dan satu lagi sibuk bikinin tulisan di kertas yang saya nggak tau buat apa. Kertas itu akhirnya dia deketin ke lengan atas tangan kanan saya, terus dilingkarkan disitu. Saya baru sadar kalau kata-kata yang ada dikertas itu tertulis : Kapten.
Saya terharu.
Yaa walaupun saya jadi ngerasa kayak emaknya orang utan, tapi entah kenapa saya seneng banget. Saya jadi ngerasa dibutuhin. Disitu, saya benar-benar dianggap ada.
Sudah malam, akhirnya saya memutuskan untuk menyuruh mereka pulang.
“Kak, besok kesini lagi ya?”
“Iya kaak, besok kesini ya?”
Saya diem sebentar. Nggak tahan liat raut muka mereka yang lugu-lugu.
“Aduh maaf ya, besok kakak nggak bisa.” Jawab saya, berat.
“Kalo hari senin?”
“Senin juga kakak nggak bisa..”
“Hmm, selasa? Rabu? Kamis, Jumat, Sabtu?”
“Yaa nanti kalo kakak sempet, kakak pasti kesini, ya?” Jawab saya, semakin berat pas liat muka mereka mengkerut semua.
“Atulah kakak….”
“Udah yuk pulang, udah malem.” Ajak saya, sambil ngusap kepala mereka satu-satu.
Setelah itu satu per satu dari mereka salim kemudian pulang. Tinggal satu yang tertinggal. Dia.
“Loh nggak pulang? Kamu rumahnya dimana?” Tanya saya.
“Nggak mau pulang kak.”
“Udah malem ini, pulang yuk, nanti dicariin.”
“Maunya dianterin kakak.” Saya diem sebentar. Untuk pertama kalinya saya ngeliat mukanya dia, lugu, polos, melas. Saya trenyuh. Saya lantas tersenyum.
“Yuk!”
Terus dia langsung gandeng tangan saya. Saya nganterin dia pulang, tepat sampai di depan rumahnya.
“Ini rumah aku kak.” Katanya.
“Yaudah, gih, istirahat, udah malem.” Kata saya. Terus dia langsung salim sama saya. Saya kaget, lagi lagi. Karena ini untuk pertama kalinya dia salim sama saya, setelah berhari-hari saya kenal sama dia tanpa sekalipun dia noleh ke saya ketika saya manggil namanya.
“Assalamualaikum.” Katanya.
“Waalaikumsalam. Belajar yang rajin ya.” jawab saya sambil mengusap kepalanya. Terharu.
Kemudian dia berlalu, masuk ke dalam rumahnya. Dan saya ikut berlalu, pulang. Seiring dengan ucapan alhamdulillah, dan penulisan kata ‘terharu’ dan ‘trenyuh’ yang sedari tadi saya cantumkan di tulisan ini, untuk kesekian kalinya, dan sampai saat ini saya masih ingat benar hari itu, dan masih bikin saya trenyuh.
Maaf yaa kalau tulisan ini memang sedikit panjang. Soalnya banyak banget hal yang saya dapet hari itu. Satu hal yang paling ngena pada saya:
Ketika saya memberikan sedikit ilmu pada mereka, ternyata justru mereka yang memberikan banyak sekali pelajaran pada saya.
Tentang kesabaran, hidup, semangat, dan cinta.
Dan segala sesuatu yang akhirnya bikin saya terharu. Lagi.
Bandung, Mei 2012.
jamikanasa
(via agungagriza)
(via agungagriza)
If only I could stop this, this huge feeling, I would not be this sick. It’s been three years and everything seem like yesterday, yesterday when I first saw your face, yesterday when for the first time I fell in love, with you. I don’t wanna be this sick, I don’t wanna be like this, but I just can’t. I just can’t stop this……………..feeling.
It’s late and I need to go to sleep, so,
Goodnight. You.
Thanks for asking.
Just a bit lonely in heart, and a bit pissed off cause of many reasons.
I questioned myself, my abilities in many things,
I really want to write but I’m too tired.
Damn, I need sleep.
I lay down on the cold ground
And I, I pray that something picks me up
And sets me down in your warm arms”
Mereka bilang, dia bernama takdir.
Tentang waktu dan kepastian di masa depan.
Bila benar, maka kau akan datang. Dan kita akan bertemu.
Mereka bilang, dia bernama nasib.
Tentang integrasi antara proses dan harapan mendatang. Tentang pencapaian yang mereka bilang, dia bernama hasil.
Bila benar, maka aku tak akan pernah sia-sia. Menunggumu. Berdoa, dan berusaha. Untukmu.
Mereka bilang, dia bernama jarak.
Tentang spasi tanpa dimensi yang memisahkan aku denganmu. Ruang yang tercipta, hampa. Batas antara aku denganmu.
Mereka bilang, dia bernama waktu.
Tentang detik yang tak pernah bisa berhenti berdetak. Udara bening yang menyuarakan habisnya memori tentang kita.
Bila benar, maka aku tidak akan mendengar.
Karena aku bilang, aku tidak peduli tentang apa yang mereka bilang.
Biar nanti takdir yang menentukan baiknya. Biar nanti nasib yang membuktikan tulusnya. Biar nanti jarak yang mempertemukan jalan ceritanya.
Mereka bilang, aku naif.
Aku bilang, biar nanti waktu yang menjawab semuanya.
miss you too, vivaaa. hmmm, jadi ini numblr baru? Gapapa viiv, ayo buka lembaran baruu dan tetap menulis! :)
